Kafe Ujung, Taste Fiksi Sehangat Cangkir Kopi
Palu boleh jadi tidak punya bioskop. Bukan berarti kerja film tidak ada di kota ini. Dalam rentang waktu 2002-2003, sejumlah film indie bergenre drama (fiksi) tercatat telah diproduksi. Film itu adalah Telunjuk Tak Berjiwa karya Erwin Sirajuddin. Kerja film seperti itu tidak hanya melibatkan personal saja, namun dibuat oleh tim produksi yang lalu berkembang menjadi sebuah komunitas film. Ada sejumlah komunitas film yang tumbuh dan bertahan hingga saat ini.
Salah satu komunitas film yang terhitung aktif dalam memproduksi film indie di Kota Palu adalah Kafe Ujung. Jangan tertipu oleh namanya, Kafe Ujung jauh dari tempat kuliner atau tempat kongkow anak muda. Komunitas ini asli kumpulan para film maker. Kafe Ujung merupakan akronim dari Komunitas Felem Maesa Ujung.
Dari kepanjangannya, sudah bisa ditangkap beberapa informasi. Misalnya, kafe ujung adalah komunitas film dan tempatnya berada di Maesa Ujung. Tafsiran sederhana itu memang ada benarnya, karena markas Kafe Ujung saat ini ada di Kelurahan Maesa paling Selatan atau dalam bahasa peta jalan, yakni Jl Miangas. Di tempat inilah sejumlah karya film lahir. Kebetulan markas Kafe Ujung saat ini adalah kediaman dari pendirinya, Yusuf Radjamuda.
Sosok pria yang lebih dikenal dengan sapaan Uchup ini, memang tidak bisa lepas dari Kafe Ujung. Uchup di kalangan komunitas film Kota Palu, dikenal ahli dalam film bergenre fiksi. Aliran film yang digeluti oleh Uchup, tidak jauh dari taste film produksi Kafe Ujung. Kafe Ujung mulanya berangkat dari sebuah rumah produksi bernama Nadea Studio. Komunitas yang berdiri tahun 2009 ini, sudah melahirkan lima film fiksi dalam rentang waktu 4 tahun. Film pertama yakni Sahabat dan Harapan (Yusuf Radjamuda), produksi Nadea Studio pada tahun 2006.
Karya film selanjutnya adalah Protes (sutradara: Yusuf Radjamuda) pada 2008. Film Protes diikutkan pada Pekan Seni Mahasiswa Nasional IX 2008 di Jambi dan meraih peringkat ke 5. Setahun kemudian, film Cuma 5 Ribu (Yusuf Radjamuda) di produksi. Menurut Uchup, film Cuma 5 Ribu diproduksi khusus untuk diikutkan di Eksebisi Felem Kita (EFEK) 2009, sebuah ajang eksebisi film indie pertama di Kota Palu.
“Saya merasa tidak baik saja kalau mengikutkan film produksi lama di EFEK. Jadi buat film lagi, ya Cuma 5 Ribu itu tadi,” kata Uchup.
Masih tahun 2009, film Benderaku Kaku diproduksi. Kali ini sutradaranya adalah Moh Azwan A Thayeb, yang kini menjadi ketua Kafe Ujung. Sementara film teranyar Kafe Ujung adalah S.A.S (Sudahkah Anda Sholat?), yang diproduksi pada 2010. Film S.A.S berangkat dari realita maraknya virus komputer yang menanyakan Sudahkah Anda Salat?.
Soal karya, Uchup mengungkapkan sejak awal Kafe Ujung ingin menyumbang karya untuk daerah (lokal), bukan bergerak di industri film (mainstream). Karena itu jalur indie pun dipilih. Menjadi indie menurut Uchup harus total, tidak hanya sekadar mandiri produksi, namun juga harus mandiri dari tema dan penggarapannya. Jika sama seperti sinetron maka jangan menyebut indie, katanya.
“Sebenarnya (Kafe Ujung) tidak muluk-muluk bermimpi bersaing dengan mainstream, tapi belajar peka terhadap lingkungan, mengamati dan menyikapi persoalan kehidupan sehari-hari melalui film, kita hanya ingin ikut menyumbang karya untuk turut memajukan perfilman daerah kita bersama teman-teman film maker lainnya,” tambahnya.
Kembali soal logo yang nyeleneh dan cukup “menyesatkan”, Uchup ternyata punya jawaban sendiri. Menurutnya logo sesuai dengan akronim Kafe Ujung, yang bisa berarti tempat berkumpulnya orang-oarnga yang mau sharing dan ini sering terjadi di kafe. Tentu saja, kafe tidak lengkap tanpa kopi yang digambarkan dengan simbol kopi; akrab, santai, kental kebersamaan, dan tentu saja hangat. Sementara gambar lensa di sisi kanan kopi adalah bentuk output visi bersama yang hangat di dalam cangkir itu. Sedangkan piring kecil tatakannya adalah wadah tempat berpijak.
Nur Soima Ulfa. Hidup dari tulisan. Sehari-hari berprofesi sebagai jurnalis cetak. Selain rutinitas menulis berita, juga suka menulis feature dan fotografi. Anggota Pewarta Foto Indonesia (PFI) Palu. Belakangan tertarik dengan film














Anto Freaks
September 16, 2010 at 12:50 am
Kafe Ujung tidak lepas dari figur dan karakter seorang sutradara sekaligus kameramen. Talenta dan skill yg dimiliki tidak diragukan lagi. Semoga kedepannya bisa terus berkarya lagi. Sudah rindu jg mau ke Maesa lagi le..
Big Thanks to Yusuf Radjamua aka Uchup
untuk ilmu yang selama ini sudah diberikan..
Go Step!Magz :)
irma sahabuddin
September 16, 2010 at 1:09 am
Pengen skalii ikutt berperan lgsng d’filmnyaa ..
Bsa ?? :(
olivia
September 16, 2010 at 8:01 pm
sukses selalu buat KAFE UJUNG dan STEP!MAGZ… :)
M Azwan A Thayeb
September 17, 2010 at 10:48 pm
mari dukung perfiliman dikota palu!!
Selly Patricia Aror
May 24, 2011 at 4:12 pm
SUKSES slalu untuk perfilman kota Palu..
bikin bangga :D
big applause…