Kata Kota Kita
“Ya ampuuunn.. Panasnya ini Palu seperti di Afrika, pantas banyak pemalas..:p”
Begitu salah satu status seseorang dari hasil pertemanan saya di situs jejaring sosial Facebook. Sebagai orang yang lahir dan besar di Palu, saya merasa miris dan sebagainya telah bercampur aduk. Apa iya Palu ini panasnya seperti di Afrika? Apa iya di sini banyak pemalas? Terlalu berlebihan rasanya untuk menilai kota ini seperti itu. Sudah terlalu sering orang yang bisanya hanya mengeluh dengan kota ini.
Palu selalu dibanding-bandingkan dengan kota lain di Indonesia seperti Jakarta, Bandung atau Makassar. Sebenarnya sah-sah saja kita membuat perbandingan apalagi sebagai stimulus atau motivasi untuk maju, tapi kalau terus-terusan hanya bisa membuat perbandingan tanpa berbuat juga, untuk apa? tidak ada gunanya sama sekali. Kota ini selalu di kritik. Kritik itu sangat berguna apalagi untuk kota yang sedang berkembang seperti Palu, tapi kalau terus-terusan hanya mengkritik tanpa berbuat, tak ada gunanya sama sekali.
Kota ini tidak butuh orang-orang pesimis. Kota ini tidak butuh orang-orang yang merasa hebat. Kota ini tidak butuh orang-orang yang selalu mengeluh. Yang dibutuhkan kota ini orang-orang yang optimis dan berani berbuat. Kalo mau kota ini bersih ya jangan buang sampah sembarangan, kalau mau kota ini tidak panas tanam pohon pelindung paling tidak di sekitar rumah atau jangan menebang pohon pelindung seenak jidat. Simpel dan kongkrit kan?
Sejauh ini Palu telah mengalami kemajuan yang pesat. Kita telah memiliki Jembatan Palu IV yang mempunyai bentuk unik dan dibangun dengan biaya milyaran rupiah, serta sangat berguna bagi kita. Jembatan Palu IV juga telah menjadi sebuah landmark baru kota ini yang dulunya hanya dipenuhi patung kuda. Menjamurnya tempat nongkrong yang menawarkan suasana baru dan kuliner-kuliner khas yang enak, serta banyaknya komunitas-komunitas baru seperti skateboarder, komunitas Reaggae, Komunitas penggemar fotografi, dll.
Tahun 2010 ini, Palu juga dipercaya menjadi tuan rumah event berskala nasional seperti Festival Maulid Nusantara V dan Peringatan Hari Keluarga Nasional. Untuk itu seharusnya kita bangga dengan kemajuan kota ini. Seandainya kota ini bisa bicara hanya satu yang ia akan bilang “mari berbuat,” kata kota kita. (Aprianto)














Anto Freaks
September 23, 2010 at 1:23 am
saya sepakat dan agak miris juga dengan celoteh seperti di yg dikutip di atas, dan sy jg sering mendengarnya. Memang kalau dr skrg kita tdk berbuat, kapan kita akan maju. Solusinya memang harus seperti di atas, “yang dbituhkan kota ini orang-orang yang optimis dan berani berbuat.” bukan orang yang pesimis.
NB: sy suka pic yg di atas Pays.. :)
Keep Moving!!!
Papa aL
September 23, 2010 at 9:30 am
Palu : The Land of the seven suns…
Panas – Tropis itu sexy kawan….. :)
ilo larekeng
September 23, 2010 at 10:13 am
semoga matahariku tak terbuang percuma…..
tjinonk
September 24, 2010 at 10:40 pm
palu ngataku… ku bangga padamu walau apa rupamu !! :)
gape
October 7, 2010 at 9:26 am
walau panas setidakx masih tag terasa sesak dan kesempitan, tidak seperti kota lain. Palu is The best, Luv PALU !!!
nder
October 16, 2010 at 7:26 pm
ayo teman siapa yg punya ide utk manfaatkan HOT energinya kota kita.. :)
im
January 12, 2011 at 11:20 am
Sejujurnya, sekian lama bersosial dengan kawula muda kota Palu, kebanyakan spesies yang ditemukan adalah para pragmatis-skeptis-pesimis dan anti-progressive.
Terima kasih Tuhan, saya dipertemukan dengan http://www.stepmagz.com dan saya merasakan hal yang sangat berbeda.
Dimana pun itu, setiap perubahan diawali oleh pergerakan kawula muda yang progressive-revolusioner, yang haus dengan perubahan-perubahan positif, yang gila prestasi, cinta pelayanan meski dihinakan oleh mereka yang pragmatis-skeptis-pesimis, yang rela berdedikasi atas nama ‘kreatifitas’ seni yang tak mungkin terbendung.
Saatnya merubah paradigma kultural Palu, melalui gejolak kawula muda yang termanage oleh cinta-kasih-sayang. Masa depan Palu akan cerah, tidak akan lama lagi, tinggal menghitung tahun saja. Dimulai dari kawula muda.