Guru, Mbah Maridjan dan Musisi
Pahlawan Tanpa Tanda Jasa?
Ada 2 topik penting akhir tahun 2010 ini; semangat kepahlawanan dan soal bencana alam Wasior, Mentawai dan Merapi. Setidaknya bagi saya, selain penting, kedua topik ini sangat inspiratif dan memancing adrenalin untuk mencatat something happen di negeri ini.
Well, diantara kita, pasti pernah mendengar sebuah kalimat nan bijak, “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”.
Dan tiap kali mendengar kalimat itu, yang ada dibenak kita adalah “Sang Guru”. Bagi saya yang paling mengesankan adalah mengenang Bu Hasana, Guru TK Aisyiah Donggala. Dialah yang membuat saya bisa membaca dan menulis dengan lancar saat usia 5 tahun.
Sang Guru, mendedikasikan pekerjaannya dengan sangat tulus, penuh cinta kasih dan keikhlasan untuk membebaskan anak didiknya dari “penderitaan” buta huruf, hingga bisa baca dan berpengetahuan, seperti saya.
Tapi pada saat yang bersamaan, dalam benak saya pun memikirkan sikap pemerintah terhadap masa depan sang guru. Sangat kontradiktif dengan jasa-jasa mereka dalam dunia pendidikan, mulai dari play group sampai tingkat perguruan tinggi, tak terkira nilainya.
Malah bukan hanya melupakan jasanya, haknya untuk hidup layak pun terampas, seperti yang digugat oleh Iwan Fals dalam lagu Oemar Bakri ; “Tapi mengapa gaji guru Oemar Bakri seperti dikebiri”.
Sesungguhnya sejatinya pahlawan adalah Sang Guru kita.
Menjelang peringatan Hari Pahlawan pada 10 November, sosok pahlawan sejati kembali mencuat dan dipertanyakan. Bahkan hingga catatan ini diturunkan, masyarakat dan pemerintah belum sepakat untuk menentukan sikapnya, apakah Pak Harto, mantan Presiden RI kedua itu berhak mendapatkan gelar Pahlawan Nasional atau tidak tidak berhak?
Rakyat dibuat bingung sebingung-bingungnya. Disatu sisi menyebutkan bahwa Pak Harto adalah “Bapak Pembangunan Bangsa”, jadi otomatis berhak mendapatkan gelar kepahlawanan. Disisi lainnya, masyarakat berteriak bahwa Pak Harto adalah “Penjahat HAM” dan “Koruptor Ulung” (meskipun pengadilan tak pernah bisa membuktikannya), karenanya tak layak mendapat gelar sebagai Pahlawan Nasional.
Belum tuntas polemik soal gelar kepahlawanan itu, bangsa ini kembali mendapat musibah yang berturut-turut merenggut korban ratusan nyawa. Mulai dari banjir bandang di Wasior Papua Barat, kemudian Tsunami di Mentawai hingga Debu Panas yang dimuntahkan Gunung Merapi pada 26 Oktober 2010 secara bersamaan. Hingga akhirnya bencana alam itu menyudahi hidup sosok fenomenal, Sang Juru Kunci Merapi, Mbah Maridjan.
Mbah Maridjan, “menjaga” Gunung Merapi atas titah Sultan Hamengkubowon ke IX, pun dengan ketulusan hati, penuh cinta kasih dan keikhlasan, hingga akhir hayatnya, ia terbungkus debu panas hingga 500 derajat dalam posisi bersujud dihadapan Sang Khalik
Seperti pada bencana-bencana alam terdahulu, masyarakat tanpa aba-aba dari pemerintah, tanpa komando, tapi secara serentak penuh semangat gotong royong langsung menghimpun dana untuk turut memberikan bantuan. Terlebih para Musisi yang kerapkali melakukan aksi peduli sosial dan menghimpun dana dari ratusan juta rupiah hingga milyaran rupiah. Seperti acara ‘Emergency Sounds’ yang digelar oleh Glenn Fredly dan para musisi lainnya, di FX Plaza, Senayan Jakarta 28 Oktober lalu. Mereka melakukan semuanya dengan penu ketulusan hati, penuh cinta kasih dan keikhlasan.
“Teman-teman, perubahan dan perbaikan nasib masyarakat di tanah air ada ditangan orang-orang diluar system bukan monopoli mereka yang ada dalam system,” tukas Glenn Fredly penggagas acara konser amal yang melibatkan puluhan musisi termasuk kolaborasi antara Abdee Negara dan Glen Fredly.
Seperti juga “Sang Guru”, Mbah Maridjan dan para Musisi, adalah orang-orang diluar system yang bekerja dengan tulus, penuh cinta kasih dan penuh keikhlasan memberikan perhatian dan kepeduliaannya terhadap sesama manusia, berbhakti buat bangsa dan Negara, tanpa pamrih.
Bukankah sejatinya pahlawan seperti itu?
Dan tentu saja, Sang Guru, Mbah Maridjan dan para Musisi tak memerlukan tanda jasa untuk membuktikan bahwa sesungguhnya mereka pahlawan bagi Rakyat Indonesia saat ini.














mbah Mario
November 23, 2010 at 7:30 am
Sosok mbah maridjan gak pantas dicontohi krn lebih memilih sikap “jaim” nya drpd turun gunung & percaya pada ilmu modern yg diimplementasikan oleh BMG.
org yg diamanahkan menjalankan tugas seperti mbah maridjan itu bisa disamakan dgn PemadamKebakaran,Tim SAR dll, jd kalau bertugas sebaiknya JANGAN MATI, krn kalau MATI berarti GAGAL.
Masyarakat merapi banyak yg mati krn percaya sm Mbah maridjan yg gak mau turun gunung krn berharap tebakan kebetulannya bisa benar seperti merapi jilid sebelumnya.
Semoga Allah SWT menerima amal ibadahnya n memasukkanya kedalam surga. Amin
buddy ace
November 24, 2010 at 11:43 am
Para pembaca Step Magz yang budiman,
Saat berada di Palu, sejak 19 sd 23 November 2010 (Dalam rangka “Konser Musik Damai & Peduli Bencana di Tanah AIr”), saya tak pernah mengingat tentang isi dari Catatan saya di atas, sampai saya mendapat kabar dari keluarga di Palu, bahwa “Guru TK saya, Ibu Hasanah meninggal dunia”.
“Innalillahi wa’inna ilaihi rojiun”
Saya cukup terkejut dan tiba-tiba teringat catatan saya di atas, seperti ini;
“Dan tiap kali mendengar kalimat itu, yang ada dibenak kita adalah “Sang Guru”. Bagi saya yang paling mengesankan adalah mengenang Bu Hasana, Guru TK Aisyiah Donggala. Dialah yang membuat saya bisa membaca dan menulis dengan lancar saat usia 5 tahun”.
Luar biasa, ini salah satu pengalaman menulis yang luar biasa yang pernah saya alami.
Saya menulis komentar ini, sebagai ucapan TERIMA KASIH saya pada IBU HASANAH yang pernah mendidik saya dengan luar biasa, dan kini almarhumah telah Wafat pada 22 November lampau. Semoga arwah almarhuamh di terima disisi ALLAH SWT. Dan keluarga yang ditinggalkannya diberikan ketabahan.
Amien…
Dan tentu saja, terima kasih buat STEPMAGZ, yang telah memberikan kesempatan pada saya untuk menulis catatan saya disini, dan kemarin meskipun singkat sempat bertemu dengan saya saat di Palu.
Andara
November 24, 2010 at 12:30 pm
turut berduka cita yaa ka buddy, semoga guru tknya mendapat tempat yang layak disisinya,amin
dirgantara
November 24, 2010 at 12:31 pm
Guru yang baik melahirkan murid yang baik. Saya yakin Mas Budi dididik dari sang guru dengan baik
dara
November 25, 2010 at 4:15 am
musisi memang pahlawan bai anak muda masa kini
indra adrian
December 6, 2010 at 1:34 pm
nggak semua musisi cocok disebut sebagai pahlawan masa kini, masa “vokalis video porno” itu pantas disebut pahlawan?
cuman sedikit kaleee, musisi yang benar-benar care ama rakyat siapa?
paling cuman Iwanfals, slank
siapa lagi yaa?
indha female
December 6, 2010 at 1:35 pm
pahlawan yaa mereka yg berjuang tanpa pamrih, tapi klo musisi mana mau mentas tanpa dibayar? yuhuuuuu (ngakak mode on)
Farasy
December 6, 2010 at 9:19 pm
Pertama saya adalah penikmat catatan budy ace di Step!Magz. Bagi saya catatan-2 simplenya selalu sarat dengan pelajaran. Menariknya lagi, membacanya bisa dilakukan tanpa harus ‘mengerutkan kening’ di depan layar komputer. Pilihan bahasanya lugas dan sederhana – memungkinkan bagi anak muda dengan kualitas otak seperti saya untuk memahaminya. :)
@IndhaFemale : saya ingin menyebut bahwa musisi juga harus dinilai sebagai profesi (tentunya selain penilaian lain seperti hobi, kesenangan, penyampaian idealisme dan lain-lain). Untuk itu saya bertanya apakah ada profesi yang tidak memerlukan bayaran – sebagai ganjaran profesionalitas mereka? Jadi soal bayaran saya pikir sah-sah saja.
Lagian yang sedang diceritakan oleh Budy Ace di atas konteksnya ketika Bencana – ketika bencana banyak musisi dengan sukarela menyumbang penampilan mereka tanpa dibayar. Dalam konteks bencana apa yang mereka lakukan minimal sudah dalam posisi sebagai relawan – rela membagi waktu, tenaga dan harta untuk menolong orang lain. Jadi sangat bermanfaat bukan. Melihat konteks tulisannya lagi harus saya bilang bahwa kritik anda tidak tepat. Saya pikir lagi banyak juga musisi yang rela untuk tidak dibayar, apabila memang ada konteks-2 di sekitar acara yang cocok dengan mereka, misalnya : ketika bencana atau perayaan hari besar yang kebetulan cocok dengan sikap mereka.
@IndraArdian : soal care sama rakyat. yah kita bisa bilang musik yang baik yang menceritakan konteks sosialnya. Tapi bukan berarti hanya itu saja penialaiannya. Seorang Glen Fredly musiknya selalu soal cinta – akan tetapi cinta memang bahasa universal, akhirnya beliau juga aktif dalam beragam kegiatan sosial. Seperti diceritakan catatan ini. Apa itu tidak bisa disebut sebagi bentuk care. Walau tak sefrontal iwan fals (dalam lirik) tapi banyak musisi yang juga care sama lingkungannya. Saya pikir ada banyak cara untuk melakukan bentuk perhatian pada rakyat seperti yang dilakukan IwanFals, Slank, Glen Fredly atau bahkan para musisi-2 lain.
Soal moral yang anda sebut “Vokalis Video Porno”. Saya pikir itu urusan pribadi sang vokalis. Hal ini sama saja ketika kita bicara soal presiden pertama Sukarno yang pernah menikahi seorang geisha di klub malam Copacobana Jepang, Naoko Nemoko yang ia beri nama Ratna Sari Dewi. Apa lantas perbuatan pribadi Sukarno, merusak citranya sebagai pahlawan? tentu tidak, dia tetap seorang besar dengan jasanya sebagai pejuang dan proklamator bangsa.
Terima kasih.
buddy ace
December 9, 2010 at 11:59 am
Farasy cerdas!
But it’s okay, saya menulis catatan di ata smemang untuk memancing adrenalin setiap orang yang membacanya agar mau mendiskusikannya.
Saya percaya kita semua merasa memiliki Indonesia ini dari prespektif masing-masing dengan cara dan gaya masing-masing untuk menunjukkan nasionalisme dan patritotisme kita terhadap tanah air.
Dalam catatan saya hanya menyebut Glenn Fredly, itu karena situasional dan konteksnya memang soal sikap musisi yang peduli terhadap bencana alam di Indonesia.
Kenapa Glenn Fredly?
Hehehhe… subyektifitasnya, karena dia sahabat saya.
Tapi obyektifitasnya seperti yang sudah ditulis oleh Farasy, bahwa Glenn adalah penyanyi love song dengan dedikasi sosial yang sangat tinggi.
Dan pada bencana Merapi, Wasior dan Mentawai, dialah musisi pertam, sekali lagi, musisi pertama di Indoensia yang menggelar konser pertama, sekali lagi konser pertama di Jakarta, untuk membantu korban bencana alam.
Lalu kemudian disusul oleh musisi lainnya.
Well, apapun, terima kasih atas tanggapannya terhadap catatan saya di atas.
No one is to old to learn!
sandrina
December 12, 2010 at 3:06 pm
obrolan orang cerdas!
sri lestari
December 21, 2010 at 1:00 pm
Bang ditunggu tulisan lain yg inspiratif
ichsan
March 5, 2011 at 6:00 am
poto2 mbah maridjan pada saat beliau mw wafat
http://bit.ly/ebAU0F