Tontonan Teater Eksperimental Yang Meneror Mental

By on November 23, 2010

Versi minimalis Zoom yang tetap menteror mental dengan detilnya yang kaya.

Biasanya paradigma akan tontonan sebuah pementasan teater sinonim dengan kata membosankan, “berat” dan  ditujukan buat kalangan orang tua. Bagi orang awam pilihan terbaik menonton teater adalah yang di dalamnya mengandung dramaturgi. Konsep teater yang old school tersebut coba dimentahkan oleh kelompok teater Masyarakat Batu.

Mengambil tempat di Gelanggang Olah Seni (Golni) Palu, Sabtu (30/10) yang lalu dipentaskanlah pertunjukan teater eksperimental Zoom karya tokoh besar Putu Wijaya yang dijuluki teroris mental. Pementasan ini aslinya melibatkan ratusan pemain dengan penggunaan beberapa panggung dan layar. Tapi, ditangan sang sutradara Zulkifly Pagessa, Zoom berhasil direduksi dan diminimalisir dengan tidak meninggalkan kesan teror mental yang dihasilkannya.

Pertunjukan yang sempat molor satu jam dari jadwal yang seharusnya ini toh tidak mengurangi minat para penonton. Menurut Uun, sapaan akrab Zulkifly Pagessa, salah satu alasan mementaskan Zoom karena ingin memberikan sebuah tontonan baru bagi para penonton yang menurutnya tidak seberat perkiraan orang.

Selain sifatnya yang eksperimental dan tidak seperti teater kebanyakan yang bersifat konvensional, proses adaptasi Zoom ini juga tidak kalah eksperimentalnya. Dikarenakan ketiadaan naskah, pada akhirnya membuat semua pemain yang terlibat menjadikan kopian DVD asli pementasan ini sebagai pemandu. “Saya menggunakan metode naskah visual untuk bisa mengerti naskah asli dari karya ini,” kata Uun.

Tercatat para penonton yang terdiri dari beragam usia ini hadir memenuhi kapasitas kursi yang telah disediakan dan seakan dibuat “hanyut” ke dalam sebuah tontonan yang kaya akan ornamen-ornamen berupa simbol dimana lightning, gesture pemain, musik dan visual screen yang bertebaran sepanjang pertunjukan berlangsung tanpa adanya dialog sama sekali terajut dengan baik. Pada akhirnya menurut Uun “biarkan masing-masing penonton menafsirkan sendiri apa yang mereka tonton di atas panggung.”

Kelompok teater Masyarakat Batu bukanlah sebuah kelompok baru di lingkup berkesenian di kota ini. Sejak tahun 2001 mereka aktif mementaskan pertunjukan-pertunjukan teater baik di dalam dan diluar kota Palu. Fokus utama kelompok ini adalah memanggungkan karya seni dengan menggunakan beragam medium seperti, instalasi, performance, musik, teater, video art dan beragam medium lainnya. (Ejha Rawk)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>