Liburan Ala Backpacker

By on June 28, 2011

Setiap orang pasti punya mimpi-mimpi besar. Begitupun dengan saya, mahasiswi 19 tahun, sama sekali tak gemar belajar, sering bolos kuliah dan jauh lebih senang mencari uang ketimbang duduk di dalam kelas mendengarkan penjelasan dosen yang hanya akan membuat saya menguap berkali-kali dan akhirnya tertidur.

Lantas apa yang menjadi mimpi besar saya? Menjadi professor? Penemu? Mahasiswa teladan? Itu sangat jauh dari kebiasaan saya. Satu dari mimpi-mimpi besar saya adalah: melihat langsung Eiffel yang rupawan, di kota teromantis di dunia, Paris dan berwisata rimba di alam Afrika Selatan. Mimpi yang aneh mungkin bagi sebagian besar orang.

Buat saya menjalani hidup itu harus dengan passion. Untuk urusan itu, traveling-lah passion saya. Jauh dari rumah, berada di tempat baru yang asing, berinteraksi dengan orang-orang baru, bahasa baru, lingkungan baru, dan segala hal asing lainnya -membuat saya merasa menemukan sesuatu.

Bagi mereka yang pernah traveling dan bukan hanya sekedar berlibur, maka pasti akan tau rasanya. Bagi mereka yang belum pernah mencoba, maka cobalah dan kau akan ketagihan. Jangan risaukan soal biaya, bahasa, dan hal-hal lain yang sebenarnya tak perlu dirisaukan.

Satu hal modal awal untuk traveling adalah mimpi. “Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpimu.” Bukankah itu kata-kata yang diucapkan Arai kepada Ikal (Laskar Pelangi), kata-kata yang memicunya untuk terus bermimpi. Maka untuk apa kita takut bermimpi, toh tak ada ruginya, mimpi itu gratis bukan? Maka, bermimpilah dari sekarang!

Mimpi ke Paris atau Afrika memang mimpi yang besar, apalagi buat anak seorang PNS biasa seperti saya. Sampai akhirnya tahun 2010 seperti menjadi awal baru dalam kehidupan saya. Akhir 2009 saya mengenal tanpa sengaja sebuah komunitas yang menamakan dirinya “Makassar Backpacker” -ternyata komunitas ini pun masih tergolong baru terbentuk, jadi bisa dibilang saya semacam angkatan pertama. Melalui komunitas inilah saya mengenal apa itu backpacker, sebuah istilah bagi mereka-mereka yang gemar melakukan perjalanan/traveling dengan dana minim dan identik dengan penggunaan backpack atau ransel.

Semua berawal dari ‘perjodohan’ tak sengaja tersebut. Yang kemudian membawa saja menginjakkan kaki ke banyak tempat di Sulawesi Selatan, yang ternyata sangat luar biasa. Masalah biaya? Jangan ditanya, kamilah orang-orang yang ‘super irit’ dalam masalah semacam itu. Bayangkan saja, trip bersama kami yang pertama hanya habis sekitar 150 ribu dengan perjalanan Makassar – Bira – Kajang – Makassar dan dengan fasilitas yang cukup wah. Itu belum apa-apa, bahkan pernah saya melakukan perjalanan dari Makassar ke Danau Tempe di Sengkang tak lebih dari 50 ribu. Biaya menuju Sengkang hanya 10 ribu rupiah, itupun hanya untuk ongkos angkutan umum dari Makassar ke Maros, sisanya kami menggunakan sistem hitchihiking alias menumpang.

Itu beberapa kisah backpacking dalam negeri, lantas bagaimana dengan luar negeri? Jika untuk pulang pergi Makassar – Jakarta saja dibutuhkan kurang lebih 1,5 juta maka untuk ke luar negeri akan berkali-kali lipat dari itu, pastilah pemikiran semacam itu yang muncul. Namun kenyataannya dengan 1,5 juta, saya sudah bisa menginjakkan kaki ke Malaysia, Singapore, Thailand selama 10 hari. Itu memang diluar tiket, karena kebetulan tiket yang kami dapat agak mahal yakni Mks-Jkt-Singapore-KL-Makassar sekitar 1,5 juta. Jadi totalnya sekitar 3 juta untuk 3 negara selama 10 hari.

Rahasianya ada pada yang namanya silaturahmi. Para backpacker mengenal yang namanya hospitality atau sebuah jaringan silaturahmi yang member-nya berasal dari semua penjuru dunia. Melalui itu, kita bisa meminta untuk tinggal gratis di rumah member yang negaranya akan dikunjungi. Ada beberapa situs terkenal yang menganut konsep semacam ini yakni diantaranya www.couchsurfing.org dan www.hospitalityclub.org. Selain itu sekarang penerbangan dengan Low Cost Budget yang banyak bertebaran. Bahkan tiket saya untuk perjalanan kedua Makasar – Kuala Lumpur – Vietnam – Kuala Lumpur – Makassar total sekitar 1,2juta. Jadi tunggu apa lagi? Segera bermimpi, tentukan tujuanmu, dan rutinlah mencari cara untuk menggapainya.

Tidak semua perjalanan hanya berisikan suka, pasti akan ada duka yang menyertainya, namun itu malah membuatnya makin berwarna. Misalnya saja, ketika di Singapore, saya tiba subuh hari dan diturunkan di antah berantah, lihat orang-orang mabuk, tapi untunglah mereka tidak mengganggu, tidur di stasiun bawah tanah sampai stasiun itu buka, kebingungan mencari rumah host (orang yang akan memberi saya tumpangan) hingga tidur di taman. Ajaibnya semua itu terbayar karena saya memperoleh tiket untuk masuk ke Universal Studio secara gratis dari salah satu member couchsurfing.

Betapa kita bisa menjadi begitu dekat dengan mereka yang asing dan hanya dikenal melalui dunia maya. Di Vietnam saya bahkan kecopetan, sebuah jam yang saya beli untuk oleh-oleh diambil entah bagaimana caranya sebab jam tersebut saya simpan dalam box tapi ajaibnya box-nya tetap ada, hanya jamnya yang raib. Belum lagi di Bangkok, ditipu oleh travel yang menyuruh membayar 450 ribu untuk masuk ke perbatasan Malaysia, tapi akhirnya saya ngotot namun tetap kalah dan raiblah 150 ribu.

Beberapa pengalaman tersebut lantas tidak membuat saya putus semangat, namun justru semakin memicu semangat saya untuk mengenal lebih banyak negara, lebih banyak budaya, lebih banyak orang, lebih banyak pengalaman. Karena disinilah saya belajar, di perjalanan panjang ribuan mil, jauh dari rumah, jauh dari bangku kuliah. Di sinilah saya belajar tentang kehidupan itu sendiri, belajar dari guru yang kunamai pengalaman.

Pembelajaran itulah yang menuntunku untuk berjalan lebih jauh, dan akhirnya Senin 23 Mei 2011 menjadi sebuah hari spesial. Hari itu saya akhirnya memperoleh tiket promo PP Kuala Lumpur – Paris dengan harga 4,5 juta selama 20 hari (28 Mei 2012 – 19 Juni 2012 ). Rasanya bahkan masih seperti mimpi sekarang ini. Paris, tempat yang selalu mengisi otakku dan akhirnya semesta pun mendukungku untuk mewujudkannya. Ya, Tuhan mulai memeluk salah satu mimpi besarku dan kuharap pelukannya akan semakin erat dan erat.

a journey of a thousand miles begins with a single step-Confucius

 

Makassar,  25 Mei 2011 – 02:43 AM

369 days to France – Pratiwi Hamdhana “a day dreamer”

 

10 Comments

  1. juniarti

    June 28, 2011 at 11:25 pm

    Selamat syang…’Insya Allah Tuhan akan merangkul mimpimu….

  2. Arfan

    July 2, 2011 at 7:33 pm

    Saya baru baca Kompas Ekstra (Edisi Wisata Maret – April 2011). Kok kayaknya ada beberapa paragraf yang nyontek ya dari tulisan diatas? Soalnya mirip bgt. Ahh ga orisinil nih..

  3. Tiwi

    July 5, 2011 at 11:50 pm

    @kak Juniarti : makasih kak….

    @arfan : halo… kebetulan sy yg nulis cerita di atas… dan saya sudah buka dan teliti kompas extra edisi yg kamu maksud, dan sepertinya sy tidak menemukan yg mirip ya…
    bisa kamu perjelas yg mana tulisan yg kamu maksud? bagian mana dr tulisan saya yg kamu bilang gak orisinil?

    sebagai pembaca yg kritis harusnya kamu cantumin dong tulisan mana yg mirip dan kamu anggap gak orisinil…
    karena seingat saya, sewaktu sy mengetik tulisan di atas, saya bahkan belum tau kalau ada kompas edisi itu, bahkan saya belum pernah baca kompas extra sekalipun…. jd bisa tolong dikasih bukti, paragraf yg mana dr tulisan saya yg kamu bilang gak orisinil?

    thank u….

  4. fadly

    July 6, 2011 at 12:33 am

    good luck tiwi!!
    smoga bisa ktemu ma sego jg nnti di paris, titip salam yah ma dy… ;)

  5. Achmad Zulfikar

    July 6, 2011 at 1:07 am

    wah, kisah yang menakjubkan .. Saya juga mempunyai mimpi seperti anda melakukan perjalanan ke Paris dan menjelajah dunia.. Tapi cara untuk mencapai ke tujuan kita tentunya berbeda..

    Tetap semangat untuk travelling-nya, suatu hari nanti saya yakin dimana ada keinginan disitu ada jalan .. sukses buat saudari pratiwi dengan sejuta mimpi dan asa yang tak lama lagi akan terwujud :)

  6. iccankDrasco

    July 6, 2011 at 1:17 am

    Hallo. Crita yang bagus tapi sayang dituding menjiplak…but that’s good let it, chew it and keep it going as long as you realize it isn’t. People have their own dreams yeah shouldn’t bother “the suramadu” is came from a big dream, the Sanghai 101,instead. Looking forward for another interesting stories or maybe we could share of bit somehow…

  7. Achiel_Blue

    July 19, 2011 at 2:24 am

    Remaja PUTRI, 19 tahun, jauh dari rumah, Tanpa di temani seorang ‘mahram’-nya,,,,

    Gak dicariin/dicemasin suami atau paling tidak ortux,,???

    (just curious)

    :)

  8. Tiwi

    September 3, 2011 at 1:52 am

    @Achiel_Blue : alhamdulillah, ortu udah kasih izin, secara pakai duitnya duit hasil kerja sendiri, jadi ga ngerepotin, lagian prinsip saya, selagi masih muda maka lihatlah duni seluas-luasnya… :D

  9. Tiwi

    September 3, 2011 at 1:53 am

    @Achiel_Blue : alhamdulillah, ortu udah kasih izin, secara pakai duitnya duit hasil kerja sendiri, jadi ga ngerepotin, lagian prinsip saya, selagi masih muda maka lihatlah dunia seluas-luasnya… :D

  10. bee_ajah

    October 20, 2011 at 12:45 am

    kontak aq klo pengen ubek2 jawa timur y… or find me on cs web.

    i like your story, very inspiring

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>