Joko Anwar: Don’t be a Follower, Create Something
Bagi para penikmat film, terutama karya anak bangsa, nama Joko Anwar mungkin sudah tidak begitu asing lagi di telinga. Sejak mengawali debut penyutradaraan di film Janji Joni (2005), Joko yang kala itu mengaku benar-benar buta mengenai teknik penyutradaraan (ia mengawali karirernya sebagai penulis skenario film Arisan! produksi tahun 2003) akhirnya mampu menghasilkan karya-karya seperti Kala (2007), Pintu Terlarang (2009), dan Modus Anomali (2012).
Lewat film-filmnya yang banyak meraih penghargaan dan diputar diberbagai festival film internasional itu, Joko akhirnya punya posisi sendiri di scene film Indonesia yang berbeda dengan sutradara-sutradara seangkatannya.
Ditemui usai kesibukannya dalam menceritakan proses balik layar Modus Anomali di acara Obrolan Langsat (Obsat), Rabu (2/5) malam, sutradara yang mengaku selalu learning by doing di setiap film yang dikerjakannya ini, bersedia menjawab beberapa pertanyaan dari Step!Magz dengan ramah. Berikut hasil wawancaranya:
Step!Magz (SM): Bagaimana ceritanya seorang Joko Anwar yang mahasiswa Teknik Pesawat Terbang bisa jadi seorang sutradara?
Joko Anwar (JA): Jadi mahasiswa teknik pesawat terbangnya yang harus dipertanyakan. Jadi, sebenarnya aku itu inginnya melanjutkan kuliah di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Tapi, ternyata biayanya mahal banget. Akhirnya ya udahlah aku masuk Institut Teknologi Bandung.
Berarti ambil jurusan itu karena terpaksa dong?
Oooh gak terpaksa, sama sekali tidak. Jadi bikin film itu kan yang penting if you can tell a story. Nah kamu bisa tell a story kalau kamu sudah mengalami banyak hal. Nah, ITB itu menurutku salah satu tempat yang paling banyak menyediakan turbulence. Dan aku sudah menyadari sebelumnya jika masuk ITB itu pasti aku bakal mengalami banyak masalah. Dan itu bisa jadi amunisiku untuk membuat film.
Kenapa sih dalam tiap film yang Anda bikin selalu menyelipkan hint yang menuntun penonton ke film Anda selanjutnya? Apakah memang disengaja seperti itu?
Kalau soal itu memang aku sengaja ngasih hint di tiap filmku. Karena buat aku, itu semacam ngasih reward ke penonton yang sudah menyaksikan filmku.
Di Modus Anomali ini, apa yang ingin Anda sampaikan ke penonton?
Kalau dalam film-filmku sebelumnya, ada film yang memang aku tujukan untuk menceritakan sesuatu dan ada yang aku tujukan untuk bercerita. Dan Modus Anomali merupakan film yang aku tujukan untuk bercerita. Kalau kata sebagian orang, bikin film itu lu harus “make effort”, tapi bagi gue “just tell the story”. Nah, Modus Anomali adalah cara gue untuk “just tell the story” itu tadi.
Ada banyak komentar/review yang keluar setelah film ini dirilis. Ada yang memberikan komentar bagus, tapi tidak sedikit yang berkomentar sebaliknya. Nah bagaimana tanggapan Anda terhadap orang yang memberi komentar tidak bagus tersebut?
Pada awalnya kebanyakan orang yang menonton film aku itu misunderstood, jadi wajar kalo banyak yang salah paham pada awalnya. Aku sih ngebiarin aja karena biar bagaimanapun itu merupakan bagian dari journey mereka dalam menonton. Dan journey itu memperkaya pengetahuan orang. Jadi jangan dilarang atau marah, biarin aja.
Sebagai sutradara yang juga sering mengikuti perkembangan film pendek dan indie, salah satunya dengan menjadi juri di Festival Film Solo tahun lalu. Seperti apa Anda melihat perkembangan film pendek/indie di Indonesia?
Banyak banget yang bagus. Tapi, banyak juga yang bikin film untuk menjadi filmmaker. Sebenarnya untuk membuat film itu kan pilihannya ada dua; apakah kita ingin menyampaikan cerita, atau kita mau bercerita. Jadi bukan to make film to be a filmmaker.
Nah Joko Anwar sendiri mengawali karirnya sebagai sutradara memilih yang mana?
I want to say something.
Terakhir, apa tips dari seorang Joko Anwar kepada calon filmmaker di Indonesia?
Don’t be a follower, create something.













