Ngopi sebagai Way of being

By on June 30, 2012

Saya merasa miris, ketika beberapa waktu lalu membaca salah satu komentar pada status seorang teman di Ffacebook. Status itu kira-kira berbunyi seperti ini “ngantuk ah, pengen minum kopi”. Lalu seseorang mengomentari status teman saya tersebut dengan kalimat “ayo ke starbucks”. Kemudian, ada komentar lain lagi di bawahnya dengan kalimat “Palu gitu loh.. di sini tidak ada starbucks, yang ada hanya ….. dan …..”. Setelah saya membaca komentar-komentar tersebut, saya pun berpikir apakah parameter yang digunakan untuk menilai peradaban di sebuah kota harus dengan merk terkenal dari luar negeri?

Persoalan ini menurut saya merupakan sebuah perkara yang kompleks, karena perilaku minum kopi saat ini tidak lagi dilihat sebagai sebuah pola hidup, yang biasanya dilakukan pada pagi hari saat membaca koran atau pun sore hari. Atau ketika kita bersantai dan menikmati panganan kecil seperti pisang goreng.

Perilaku minum kopi saat ini lebih pada persoalan gaya hidup dan telah menjadi budaya populer. Kopi dikonsumsi di tempat tertentu sambil mendengarkan musik tertentu, yang kemudian secara sadar ataupun tidak menjadi way of being (cara mengada) untuk membedakan diri dengan orang lain. Alhasil, perilaku konsumsi tersebut diaktualisasikan lagi melalui media sosial dengan tindakan memperbarui status untuk menunjukan bahwa hanya orang-orang tertentu yang bisa melakukan hal-hal tersebut.

Kembali ke persoalan minum kopi. Kini, persoalan mengkonsumsi kopi tidak lagi sebatas meminumnya saja seperti orang meminum teh. Bukan hanya perkara “apa” tapi juga “di mana”. Hal inilah yang kemudian menjadi sebuah public opinion yang memacu orang untuk mengkonsumsi kopi merk tertentu, di tempat tertentu pula. Hal itu seakan-akan memperlihatkan bahwa mereka adalah kaum modern yang bertindak untuk menandai sebuah perilaku modernitas. Ironisnya, aplikasi “modernitas” yang mereka pahami itu menjadi sesuatu yang salah kaprah.

Di awal tahun 2010 yang lalu, ketika saya liburan ke Palu dan ikut dalam reuni kecil dengan teman-teman seangkatan dari sekolah menengah pertama, kami memilih sebuah kafe sebagai tempat bertemu. Kafe itu dipilih bukan karena sajian kopinya yang terkenal lezat, tapi karena kafe tersebut belum lama dibuka, dan kami ingin mencoba tempat baru itu. Saya pun memesan cappuccino yang kemudian disajikan dengan rasa manis luar biasa.

Cappuccino disajikan dengan takaran gula yang berlebih. Idealnya, Cappuccino adalah campuran dari espresso, susu yang dipanaskan, dengan susu yang dikocok hingga berbusa dengan takaran 1:1:1. Inilah yang saya sebut sebagai sesuatu yang salah kaprah, yaitu mencoba menyajikan sesuatu tanpa memahami dan mencari tahu terlebih dahulu.

Lalu, bagaimana sebaiknya kita bersikap? Dalam hal ini saya tidak ingin beretorika mengenai hal yang benar dan salah, karena anda dapat secara bebas membelanjakan uang anda untuk mengkonsumsi modernitas. Ironis memang,  Indonesia merupakan salah satu negara penghasil kopi terbesar di dunia tetapi rakyatnya harus membayar mahal hanya untuk secangkir kopi dan menjadikannya sebagai parameter untuk mengukur modernitas sebuah wilayah. (Wilton)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>