The Box, Duta Membanggakan dan Penuh Harapan
Sekitar pukul setengah sembilan,minggu (29/4) malam, venue Rock In Celebes 2012, yang bertempat di parkiran utara Trans Mall, sudah sesak oleh ribuan penonton yang sejak sore sudah disuguhi beragam sajian music cadas. Akan tetapi ada yang beda, setelah samar-samar terdengar bunyi alat musik tiup tradisional asal Sulawesi Tengah, Lalove, dari panggung satu. Yah suara itu berasal dari band rock asal Kota Palu, The Box!
Spontan, riuh penonton membahana seketika, bibir panggung satu memang sepertinya sudah disesaki “umat” The Box. Yah pada malam itu, banyak warga Palu yang hadir menonton, baik yang berdomisili (pelajar, mahasiswa) di Makassar, maupun yang sengaja datang dari Palu untuk menjadi saksi sejarah festival rock terbesar Indonesia Timur 2012.
Achi (vokal) menyapa crowd dengan suaranya yang khas, “apa kabar Makassaarr?” dan langsung dijawab oleh ribuan penonton.
The Box, band yang memiliki jam terbang cukup tinggi di Kota Palu, membuka aksi mereka malam itu dengan lagu mereka yang energik, dengan judul Song to Gaza. Perpaduan music rock dengan sound berat dari gitar milik Arqie, dua penjaga tempo, Arwan pembetot bass dan drummer Agoes serta sentuhan etnik dari dari perangkat milik Izat berupa Kakula, Jinjeridu (alat music tiup suku Aborigin) dan Lalove, dengan vokal prima milik Achi, cukup mencengangkan dan mencuri perhatian.
Memasuki lagu kedua, penampilan The Box semakin menarik dan unik dengan membawakan lagu Tadulako, lagu berbahasa Kaili (suku di Sulteng), yang menceritakan tentang sosok pahlawan.
“Kami ingin berbagi sedikit cerita tentang kepahlawanan di tanah Kaili, Sulawesi Tengah, kepada saudara-saudara kita yang ada di venue saat ini,” ujar Achi, vokalis yang saat itu dalam keadaan sakit, membuka lagu kedua sekaligus terakhir malam itu dan disambut tepuk tangan meriah dari penonton.
Melihat antusiasme penonton dan penampilan mereka yang luar biasa, kami sampai merinding.
Penampilan The Box malam itu memang istimewa, dan menjadi pengalaman berharga buat mereka yang sebelumnya belum pernah manggung di pesta sebesar itu. Istimewanya penampilan mereka menarik perhatian beberapa media nasional, diantaranya majalah Rolling Stone Indonesia.
Wendi Putranto dan Ricky Siahaan editor majalah yang bulan ini merayakan ulang tahun ke tujuh-nya, langsung mendatangi tenda milik The Box, dan ngobrol-ngobrol dengan seluruh personil.
“Band ini keren, sejak awal penampilan mereka saya langsung bilang ke Ricky, kita harus samperin band ini. Kami khusus datang dari Jakarta untuk melihat potensi band-band rock dari Indonesia Timur, dan semoga saja Rolling Stone Indonesia bisa memperkenalkan mereka ke banyak orang,” ujar Wendi kepada StepMagz.
The Box adalah band yang secara umum sudah “jadi”, dari segi skill dan performance mereka tidak diragukan lagi, karena terasah oleh pengalaman manggung di festival-festival lokal dan individunya masing-masing yang sebelumnya punya latar belakang bermusik mumpuni.
“secara skill dan penampilan mereka di panggung tadi sudah menegaskan kalo mereka bukan band main-main, hanya saja tinggal dipoles lebih baik lagi, dan bagaimana caranya supaya bisa dinikmati oleh lebih banyak orang dengan lebih banyak manggung di luar,” pungkas Wenz, panggilan akrab Wendi.
Tentu saja pencapaian The Box malam itu sangat membanggakan dan menjadi harapan besar untuk musik Sulawesi Tengah, khususnya Kota Palu yang mempunyai banyak sekali bakat hebat sebagai pemusik. (angga)














