Umar Amir: Saat Sutradara “Galau” jadi Liar

By on June 9, 2013

[colored_box color="eg. blue"][one_fourth last="no"]
[/one_fourth]Produksi: Kopro Film
Durasi: 06:08
Tahun: 2013
Sutradara: Eldiansyah Ancha Latief
Editor: Onqi Bengga
Penata Suara: Onqi Bengga
Penata Musik: Izat Gunawan
Kota: Palu

[/colored_box]

ANCHA LATIEF mungkin bukan sosok yang kerap diperbincangkan di dunia film pendek. Paling banter orang mengenalnya sebagai salah satu sutradara asal Palu, kota kecil di Sulawesi Tengah yang belakangan disebut-sebut punya potensi di dunia sinema. Anggapan di atas sahih sampai Umar Amir dirilis ke publik.

Saya mengenal Ancha lewat beberapa filmnya, yang paling menyisa di ingatan adalah And The Sky Is So Limit, sebuah film yang tampil puitik, bertutur tentang kesempurnaan dan cinta dua pasang kekasih. Apa yang menyisa di ingatan? Gambar-gambar cantik beraroma galau, serta pesan moral yang sudah kerap kita dengar. Pesan moral sepertinya akrab dengan film-film Ancha, sebutlah Fullan, yang kuat muatan religinya itu.

Umar Amir jadi berbeda, sebab muncul dari keliaran. Ancha keluar dari kebiasaan-kebiasaan yang kerap muncul dalam filmnya terdahulu. Dia menanggalkan gambar-gambar galau, mencoba bereksperimen dengan tampilan visual baru. Dia meninggalkan kesan puitik, menggantinya dengan humor sarkastik. Dikuburnya pesan moral, digantinya dengan otokritik cerdas. Secara keseluruhan, Umar Amir bisa disebut sebagai eksperimen yang sukses mengarahkan mata penikmat film kepada Ancha Latief.

***

FILM ini dibuka dengan pelarian Umar dan Amir, dua bersaudara, dari suatu tempat. Di tengah perjalanan mereka berdebat. Sejenak penonton dibuat menunggu adegan selanjutnya. Tapi yang hadir justru berbeda. Dari hutan yang mencekam, seting dipindah ke dalam layar komputer rumahan, dengan latar dua suara yang berdebat seputar film. Umar dan Amir adalah film-dalam-film yang dipinjam untuk jadi picu cerita utama.

Film itu sedang disunting oleh dua orang di depan komputer, sutradara dan editor. Umar dan Amir pun harus rela untuk dipotong, disulam, dipermak, dan didandani demi menjadi sebuah film ideal–paling tidak di mata dua makhluk penuh kuasa di depan layar komputer.

Suara (sound) yang kurang sempurna menjadi sumber perdebatan. Menurut editor, suara di film itu masih mengganjal, “Coba kau dengar bae-bae, kalo mau dipaksa angkat ba-noise sekali” (“Coba kau dengar baik-baik, kalau mau dipaksa angkat noise-nya kerasa”). Si sutradara, bertanya balik “jadi bagaimana dan? mau direkam ulang audionya? So malas saya ba-take ulang, biar jo banoise, te apa itu.” (“Jadi mau bagaimana? Mau direkam ulang audio-nya? Malas saya take ulang, biar saja ada noise-nya, tidak masalah”)

Kritik Ancha sudah terasa sejak perdebatan awal antara sutradara dan editor itu. Film terus mengalir, perdebatan makin panas. Apa yang sedang dikritik oleh Ancha? Lewat humor, Ancha mengkritik dunia film pendek dan beberapa pola produksi di dalamnya. Yang menarik lagi, Ancha pun aktif di dalamnya—dia sedang mengkritik dirinya sendiri pada saat bersamaan.

Otoritas para pembuat film terhadap film menjadi topik paling dominan dan dituturkan Ancha secara berulang-ulang, mulai dari perdebatan tentang kualitas sound, bahasa gambar, sampai pada perihal credit title. Misalnya, saat pertikaian memuncak, dengan nada arogan sutradara melempar pertanyaan ke editor, “Siapa sutradara sebenarnya kah, saya atau kau?” Tanpa perlu penjelasan yang lebih gamblang, pada titik ini Umar Amir menyindir sutradara, yang memang sudah turun-temurun memposisikan diri sebagai pihak di piramida teratas dalam urusan tata artistik film. Bahkan boleh jadi, Ancha sedang mengajak para pembuat film pendek (terutama para sutradara) untuk bertanya lagi pada masing-masing diri: Tidakkah mereka sedang bermain dengan otoritas saat membuat film?

Sebagian boleh jadi akan berkilah bahwa otoritas semacam itu memang diperlukan dalam produksi film. Umar Amir juga tak menampiknya, tapi film ini menampilkan wajah otoritas artistik yang buruk: rasa “sok paling benar” sang sutradara.

Semisal terlihat saat masalah durasi dan kebutuhan menghilangkan salah satu shot dibutuhkan. Editor menjelaskan hal ini: “Coba kau perhatikan ini gambar…tidak realistis! Menganggu sekali gambar tangan itu.” Pernyataan ini langsung ditimpali Sutradara, “Jangan! Ada pesan yang ingin saya sampaikan dari tangan itu.” Ancha menampilkan gambar tangan itu sedemikian rupa, hingga melahirkan kesan bahwa keberadaannya memang tidaklah penting. Meski demikian ungkapan “tidak realistis” dari si editor mungkin saja terasa berlebihan.

Tapi si sutradara selalu saja punya pembenaran, dan (boleh jadi) merasa paling berkuasa serta memahami filmnya. Atau mungkin saja ketika membuat film (terlebih fiksi), seorang sutradara memang sedang membuat dunianya sendiri? Bila ya, maka bukan tak mungkin dia abai dengan dunia lain di luarnya: penonton. Kecenderungan berasyik-masyuk dengan dunia sendiri itu ditekankan lagi lewat percakapan selanjutnya. “Kalo cuma tangan itu dikasi hilang, tidak pengaruh juga dengan pesan filmmu,” ujar editor mencoba meyakinkan. “Justru kunci pesannya ada di situ, jangan dikasih hilang,” jawab sutradara.

Umar Amir juga menyinggung pola-pola produksi film pendek saat ini, dimana proses pembuatan film kerap bersandar pada semangat, komunitas, dan pertemanan . Pola-pola produksinya pun lebih sering berlangsung cair, terkadang semangat sedikit luntur, menghadirkan kemalasan untuk mendapat hasil-hasil yang baik. Dalam Umar Amir, hal macam ini terlihat dari keengganan untuk melakukan retake sound, yang disebut mengganjal.

Pola komunitas yang menyiratkan kesederhanaan juga tak luput dari bidikan Umar Amir. Layar komputer yang 90 persen mendominasi film Umar Amir, bisa diidentifikasi sebagai komputer rumahan. Sesekali terdengar bunyi crash saat ada dua program yang sedang running. Boleh jadi komputer itu kelelahan. Ini makin mendekatkan penonton, terutama pegiat film pendek, dengan dunia mereka. Selama ini produksi film pendek (melalui alat komunitas), memang lebih sering dimulai dari ruang-ruang sederhana, alat-alat seadanya, dan tenaga-tenaga sebisanya.

Soal pertemanan juga disinggung dalam perdebatan tentang ucapan terimakasih di penghujung film. Ini kebiasaan: filmnya pendek, tapi ucapan terimakasihnya panjang. Sebagaimana yang diperdebatkan dalam Umar Amir memuat, ada rasa sungkan atau tak enak dari para kru film, jika satu nama kawan terlewat. Padahal, terkadang nama-nama yang disebutkan dalam ucapan terimakasih itu belum tentu punya sumbangsih atau hubungan langsung dengan produksi film.

Pernyataan yang paling kuat pada bagian perdebatan credit title ini adalah saat si sutradara mengatakan “Kalo dorang bantu urus konsumsi, boleh jo”. (Kalau mereka ikut bantu mengurusi konsumsi, boleh lah dimasukan”). Bahkan untuk urusan makan (baca:konsumsi), mereka yang terlibat dalam produksi film pendek harus siap mandiri, karena sudah lazim pekerjaan di lapangan berlangsung tanpa sokongan dari luar.

Di sinilah peta besar film pendek Indonesia tergambar. Wilayah ini belum lagi jadi industri. Tak usahlah berharap ada upah karena urusan konsumsi selama melakukan kerja produksi pun tak dijamin. Paling banter, film pendek hanya menjadi batu loncatan menuju industri (film panjang). Jika pun ada film pendek yang mulai menampakkan (keseluruhan atau salah satu) ciri dari industri, bisa segera disimpulkan persentasenya tak sampai dua digit. Ini pun biasanya terjadi jika si pembuat film adalah orang yang memang punya duit untuk membiayai produksi. Mungkin juga, si pembuat film memang sedang mengerjakan film pendek untuk keperluan tertentu. Kemungkinan lain, yang bersangkutan sekadar beruntung mendapat sponsor atau hibah dari lembaga tertentu. Tapi sekali lagi, kemungkinannya sangat kecil, padahal pembuat dan pegiat film pendek terus bertambah dari hari ke hari.

Tanpa harus membuat kritik yang kaku, Umar Amir sukses mengemas sebuah otokritik lewat humor menghibur. Otokritik macam ini tak harus hadir lewat diskusi, percakapan atau tulisan. Ancha menawarkan bentuknya yang lain (meski tak baru): film.

Terlepas itu, ada beberapa catatan penting terkait representasi dalam film ini. Pertama, sebagai seorang yang fasih bertutur dalam dialek Palu, saya merasa percakapan antara kedua tokoh di dalam film ini kurang natural, tidak mengalir, terlalu teatrikal. Konsekuensi paling jauh dari kurang naturalnya percakapan, akan membawa dampak pada terasanya “kesan sandiwara” dalam fiksi ini.

Kedua suara perkelahian dengan nuansa komikal di ujung film terasa menganggu. Ancha dalam sebuah kesempatan menyebutkan, di titik ini dia ingin menyelip pesan lain, “Bahwa pertikaian bisa dimulai dari hal-hal kecil. Di Palu, yang terkenal dengan konflik antar warga, hal seperti ini sering terjadi”. Bagi saya, suara komikal itu adalah buah dari kegagapan Ancha dalam menampilkan pesannya di atas. Suara komikal itu justru merusak mood penonton. Boleh jadi ada di antara penonton yang menganggap humor ini serius, dan malah gagal mendapatkan kesan seriusnya di penghujung film, sebab ada suara pertikaian yang serupa film kartun itu.

Ada banyak cara menampilkan perkelahian serta pesan yang disasar oleh Ancha, tak harus dengan latar suara komikal itu. Misalnya, saya menunggu “Tai Laso!” (ungkapan memaki setaraf “ bangsat”, “fuck”,” jancok”, dan sebagainya) diucapkan sebagai ungkapan amarah.

***

TAK heran jika Umar Amir,  menjadi salah satu film yang jadi buah bibir di ajang Festival Film Solo 2013. Para penonton (yang notabene akrab atau bergiat di dunia film pendek) pastilah merasa dekat dengan film ini. Jika para pembuat film pendek menonton Umar Amir dan tertawa, marilah berharap semoga mereka juga sadar bahwa di saat yang sama (boleh jadi) mereka sedang menertawakan diri sendiri.

[colored_box color="eg. blue, green, grey, red, yellow"]Tulisan ini dibuat oleh Muammar Fikrie, sebelumnya dimuat juga di Cinema Poetica dengan judul “Umar Amir: Film Pendek, Credit Title Panjang”.[/colored_box]

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>